23 July 2008

BERHITUNG

Pernahkan Anda sakit hati? baik disakiti dengan sengaja maupun tidak sengaja?
manusia paling tidak suka sakit hati, apalagi patah hati, dikecawakan, dikhianati. Wuih, kalau manusia tidak punya perasaan akan lebih mudah untuk menghadapinya. Tapi ternyata kita, manusia, human being is alive, bukan benda mati.
Ada dua hal yang sebaiknya manusia tidak hitung :
1. Kesalahan orang lain yang pernah dibuat sehingga manusia sakit hati dan kecewa dan saudara-saudaranya (saudaranya kecewa maksudnye hehe). Semakin kita berhitung berapa orang yang sudah menyakiti kita, makin tidak bahagia hidup kita, makin penuh dengan dendam dan rasa pahit di hati dan itu menyebabkan manusia tidak bahagia.
2. Perbuatan baik yang manusia pernah lakukan untuk orang lain. Karena semakin berhitung berapa orang yang pernah kita tolong dan bantu, semakin pamrih kita akan balasan orang lain. Ketika orang lain tidak baik dengan manusia, banyak yang bertanya-tanya kita, mengapa setelah jadi orang baik terus kok ga ada yang baik pada kita?kemudian jadilah dia manusia yang tidak mau lagi berbuat baik, yang sudah capai berbuat baik karena tidak pernah mendapat balasan baik. So? jangan mengharap orang lain akan melakukan hal yang sama yang pernah kita lakukan. Just do it, when you do it, you mean it.

Ces't la vie....

06 July 2008

PTT (Pegawai Tidak Tetap,Pegawai Tidak Terurus)


Dulunyeeeee…PTT itu wajib hukumnya. Pegawai Tidak Tetap, jadi kalau udah lulus jadi dokter, kudu mengikuti program Wajib Kerja Sarjana, mau ditempatin di tempat pelosok, mengabdi kepada Negara dan bangsa. Nah sesuai keputusan Menkes yang terbaru, sekarang udah ga wajib lagi. Tapi secara aku ga mau punya utang ma Negara (baca : ntar kalau kepmenkes berubah lagi), mending ikut jadi PTT aja, ditempatin di tempat pelosok gpp dah, kan cumin setaun. Kalau dulu bisa sampe 3 tahun (alamak….).
Depkes sekarang buka lowongan untuk PTT dengan kriteria Terpencil dan Sangat Terpencil. Beberapa saat sebelum aku lulus dokter, criteria ST cuma 6 bulan bok!! Udah dapet insentif sekian jeti, cuma 6 bulan pula. Wah menggiurkan bangetttt (kan bisa sekalian nabung untuk sekolah keh, kawin kek J ). Tapi saingannya…naujubilah….seluruh dokter di Indonesia. Dari yang tua, muda, bujang, duda, suami, istri, janda (stopp! Ga penting). Kadang sekali daftar belum tentu dapet tempat ey. Terus setelah aku lulus, pengumuman PTT pusat berubah lagi, jadi yang ST pun tetep setahun seperti yang T. Waaaa ini lebih menggiurkan lagi, menabungnya jadi lebih gedhe dunk. Jadilah makin banyak yang berminat memilih criteria ST.
Tunggu-tunggu… aku belum cerita prosesnya gimana. Jadi dokter mengirim berkas-berkas lamaran ke Depkes, disertai daerah mana (kabupaten atau kota) yang dipilih (yang sudah diajukan oleh Depkes). Ga semua daerah bisa dijadiin tempat PTT lo, dan of course, di luar Jawa dan Bali. Depkes membuka lowongan untuk PTT pun juga tidak setiap bulan, duluuuuuuuuu katanya tiap bulan buka. Tapi nyatanya tiap 6 bulan dan itu pun ga pasti bulannya. Dengan niat dan semangat yang amat tinggi, aku milih daerah di NTT (sambil mikir daerah Riau juga). Pertama ngeliat kebutuhan dokter yang dibutuhkan banyak, trus akses ke daerah tersebut. Awalnya tergoda juga ke Papua, tapi wah naik pesawat dari Jogja tuh bisa setengah hari sendiri.
Waktu itu bulan Maret, bukaan untuk PTT pusat April udah ada, dengan pedenya milihi kabupaten Kupang, dalam benakku sih biar deket ma Kota Kupang. Dan kriterianya Sangat Terpencil. Bulan April secara dag dig dug melihat pengumuman, yaaahh… gagal deh. Rasanya mikir, kalau ga ada bukaan lagi dalam waktu dekat gimana ya? Ternyata, bulan Mei ada lagi. Jadi April akhir kirim berkas ke Depkes, kali ini milihnya criteria T, supaya cepet keterima, soalnya ga banyak yang minat ke criteria T ini.
Yuhuu…keterima ey, di Kota Kupang, sambil berharap2 kota punya duit untuk kasih insentif ke dr-dr, kalau ga… wuih gaji pokok PTT tuh kueciilll.
Walau ga jadi keterima di Kabupaten Kupang, tapi aku bersyukur banget, bayangin aja kalau keterima di Kab Kupang, daerahnya nyampe di Pulau Sabu (yak bukalah atlas Indonesia teman-teman!, di gugusan pulau-pulau NTT ada pulau yang terletak di selatan, kecil, bernama Sabu). Untunglah… kadang aku juga ga yakin apa bisa hidup di daerah sangat terpencil, ngeri denger cerita yang sudah pernah ke tempat-tempat pelosok gitu. Naik kapal 3 hari, ga ada listrik dan sinyal, bakal di guna-guna lah macem2….aja ceritanya. Tapi intinya In the Name of Jesus aja deh, pasti ga akan ada apa-apa.
Waktu berangkat aku berlima dari Jogja, ceritanya rombongan dari Jogja yang ke NTT ada 6, 5 dokter umum dan 1 dokter gigi. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti lancarrrrrr banget, dateng ke kota Kupang udah ada yang jemput, udah ditampung di rumah temen. Soalnya waktu itu ada kakak kelas yang asli Manggarai, dan dia punya kerabat di Kota Kupang, jadilah kita ber 4 numpang di tempat kerabatnya. Sedangkan yang 1 lagi tinggal di susteran. Tapi syukur banget deh udah ada yang ngurus sampai di sana. Bayangin aja kalo harus tinggal di hotel, ga ada yg kasih tau jalan dlsb.
Tik tok tik tok tik tok….
Setelah sekian hari, dapet deh penempatan puskesmas, beberapa hari masih bingung dan ya… dag dig dug, berharap ga dapet puskesmas rawat inap lah dlsb. Akhirnya……tempatku bertugas adalah Puskesmas NAIONI. Tempatnya lumayan nyempit, di ujung kota Kupang, sekitar 15 km dari pusat kota, 35 menit karena jalannya jelek, di sono sinyal susah, air bersih susssaaaaahhh banget (alias ga ada), listrik ada tapi sering mati-mati. Waktu itu sambil deg-degan aku berharap jangan jadi kepala puskesmas di situ, maklum katanya udah 2 dokter PTT jadi kepala puskesmas. Yaaahhh, males banget ga sih udah gaji dikit, ga dapet tunjangan, kerjaan banyak, ngurusin orang yang notabene biasanya susah diatur (kok yakin? Feeling aja hehe).
Dan emang bener, berita buruk itu datang… aku jadi kepala puskesmas! Rasanya terbeban kerjaan yang aku sendiri belum pernah ngerti apa aja. Ketika keputusan itu datang, pada kasih selamat, dapet mobil dinas, dapet rumah dinas (yaks,bukan masalah materi yang kudapat, tapi beban kerjanya bok!). Yah, namanya manusia, kurang bersyukur, dapet kesempatan mengembangkan diri dan potensi malah ditolak-tolak. Akhirnya dengan berat hati aku jadi kepala puskesmas, dengan pegawai sekitar 25 orangan (sama pustu juga), dengan wilayah yang cukup luas dan hampir semua penduduknya miskin. Oke, gpp, tantangan….
Ternyata tantangan ga sampai di situ doang, pastilah ada orang-orang yang ga setuju. Siapa sih aku? Dokter masih ijo gini jadi kepala puskesmas? Hmm.. ada aja yang bikin aku ga nyaman di Puskesmas.
Emang berat juga tinggal di rumah dinas sendirian, mana di sekitarnya ga ada warung. Ah..gpp dicoba aja, ntar weekend turun gunung ke kota, bobok di kost. Fiuh….ternyata berat juga. Pengennya semua orang seneng, penduduk seneng dokternya tinggal di deket Puskesmas, kepala dinas seneng dokternya mengabdi. Tapi malah jadi tersiksa sendiri. Tapi malem jadi ga bisa ke mana-mana, mau nyambi di RS, Klinik jadi terhambat karena jarak. Akhirnya 4 bulan tinggal di rumah dinas, diputuskan, pindah ke kota aja deh. Toh tidak ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa dokter harus tinggal di rumah dinas. Paling ga aku masih di tempat tugas, tiap hari masuk, melayani pasien, ngurusin struktural dan manajemen. Beraaatttt banget bebannya (atau aku yang terlalu menganggap berat ya?). Ngurusin duit –sambil diprotes sana sini, ngursusin laporan – yang datanya ga lengkap dan setengah-setengah, ngurusin program – yang pencapaiannya selalu jauh dari target, ngurusin pegawai – yang pada malas, kadang ga masuk, terlambat, ijin ini itu. Yahh…. Waktu itu belum bisa menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan motivasi, secara memang gaji mereka kecil, tunjangan ga seberapa, uang transport juga kecil, ya…. Kalau bilang kalian kan udah digaji, PNS memang tugasnya mengabdi ma Negara – bullshit banget, mereka punya keluarga, punya anak yang harus dikasih makan, sekolah dlsb, mana sempet mikirin orang lain, mikirin penduduk yang belum bisa menjaga kesehatan, yang belum peduli hidup bersih dan sehat itu penting, yang ga ngerti gizi buruk itu jelek, ga ngerti diare itu bahaya. Yaaah.. ces’t la vie, dan aku pun juga punya keinginan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Pengalaman klinis, duit ? itu nomor sekian, tapi sapa bilang ga butuh duit untuk makan?
Emang berat, rasanya seperti menghitung hari, tiap hari tiap bulan adaaaa aja masalah. Tapi itu resiko, aku udah milih jadi dokter PTT, pegawai tidak tetap, pegawai tidak terurus (gaji datang terlambat, ga ada tunjangan apa-apa – untuk ada mobil dinas). Intinya pihak kota ga peduli, toh aku pegawai pusat, Depkes punya, untuk apa dirawat dan dirumat.
Fiuh, ini cerita pa curhat? Hehehe, tapi banyak cerita menarik selama aku PTT, pengalaman pasti nambah, karena aku ga mau di puskesmas doang. Aku juga nyambi di RSB, biar ga tambah bodho aja. Di RS pasti kasusnya lebih bervariasi, banyak kasus gawat yang bisa kutangani, transfer ilmu dari para Spesialis juga. Pokoknya puassss banget bisa kerja di RSB….
So…end of the story, setelah aku selesai PTT, puskesmasku sempet kosong 3 bulan tanpa kepala puskesmas definitif. Pegawai pada protes, minta kepala puskesmas PNS, okelah, karena mereka merasa ga dihargai, masa kepala puskesmasnya ganti-ganti terus. Hm..no comment, sebenarnya ga masalah siapa kepalanya, yang penting semua komponen bekerja sesuai porsi dan kemampuan masing-masing. Ga usah terlalu memikirkan apa yang akan didapat, tapi apa yang bisa diberikan (missal tenaga, pikiran). Aku pikir bekerja merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas karunia yang Dia berikan, dimanapun. Tuhan tidak pernah tidak memberikan rejeki pada umatnya. Tergantung kita menilai cukup atau tidak, kalau ga pernah cukup, ya selamanya miskin (bukan miskin materi, tapi rasa miskin yang diciptakan manusia itu sendiri).
Oke, selamat bekerja untuk semua dokter PTT!!!

About Me

My photo
I'm happy, with new life, new city, new hope....