Temanya adalah married, alias menikah....
By the way, it's been 4 years, since my last blog, Oh eM Ge... (bahasa gaul coy)....
Eh sekarang aku sudah menikah, it's amazing that I got married finally. Kadang masih ternganga, terpesona dengan anugerahNya, bahwa aku dan suamiku mencapai tahap menikah. Wow !
Setelah perjumpaan, kebersamaan, perjuangan, tantangan, halangan, rintangan, sampai akhirnya penerimaan, memaafkan, ikhlas dan tiba pada saatnya pernikahan..... dan yang pasti semua itu atas dasar CINTA.
Cinta yang tulus dari kita berdua (well, who else, me and my husband or former boyfriend). cinta yang tak terbatas dari orang tua kami (aku khususnya), cinta dari semua teman dan saudara handai taulan yang selalu mendoakan cinta kami (aiihhh). Sungguh, semuanya atas dasar cinta, dibumbui kasih sayang, digarami dengan mukjijat dan dimasak dengan api cinta dan diaduk oleh tangan Tuhan.
Lalu lalu lalu? bagaimana rasanya menikah?
wow...rasanya....wow
sebenarnya yang penting dari pernikahan, it's not about the wedding, it's about the marriage itself.
Menikah, pada dasarnya sesuatu yang aku impikan sejak dulu, pesta pernikahan yang hangat, yang menyenangkan, semua gembira, bahagia, dan romantis.
Tapi, ketika menjalaninya, uh, capek bok, bangun jam 3 pagi, make up jam 4, cara full dari pagi sampai malam, pasang tampang senyum. Belum ketegangan dan dag dig dugnya diriku ketika mengucapkan janji. Janji yang sepanjang itu harus dihapalkan, supaya kami bisa saling menatap, tidak menatap teks, supaya kami berjanji sehidup semati tidak hanya di mulut melainkan di hati. Alhasil, aku terpana, bergetar melihat wajah calon suamiku mengucapkan janji, sampai meneteskan air mata, dan untungnya aku hafal, walau sempat tersendat. Tapi tetap saja, setelah sakramen selesai, legaaaaaa rasanya.... semua capek, semua rasa penat, semuanyaaa hilangggg.... yang dipikirkan cuma : Let's have a party ! hehehe
Tapi bagaimana pestanya? ah, sesuai impianku, outdoor, romantic, remang-remang, dikelilingi keluarga dan teman-teman dekat. Uh so sweet lah, walaupun sempat diguyur hujan deras, tapi thank's to all my friends yang bener-bener rela datang.
After married ?
jaaauuh lebih menyenangkan, tidur ditemani, ada yang menemani makan malam, ada yang membawakan makanan ketika jaga, suamiku memang suami terbaik.
Jalan-jalan berdua, tertawa berdua, ciuman sebelum berangkat, ciuman ketika bertemu, pelukan hangat setiap saat, aih, so sweet.
Suamiku bukan orang yang romantis, tapi dia penyayang dan mesra, lucky to have him.
Tetap, satu kata : amazing, miraculous ! Good things do come to those who wait...
So, buat yang belum menikah, menikahlah (dengan orang yang tepat tentunya, yang kamu cintai, yang mencintaimu, yang Tuhan sediakan untukmu). Yang belum mendapat pasangan, tunggulah, carilah, follow your heart.....
Freedom Of Life
Inilah blog yang isinya komentar-komentar dalem, menggelitik, mengoyak-koyak batin, mengganggu pikiran para pembacanya hehehe... Selamat menikmati !
12 August 2012
20 November 2008
Aku Mencintaimu

"Aku sayang kamu."
"Iya, aku tahu, aku mencintaimu."
Genggaman tangannya yang hangat, mengaliri seluruh pembuluh darahku. Jemarinya membelai jemariku. Aku merasakan seolah cinta itu merasuk ke jiwa dan sukma, menembus sumsum dan membelah jantung. Degupan jantungku semakin keras, tetapi rasa ini sungguh indah. Nyaman dan damai, tenang dan tentram.
Kami berdua diam menikmati waktu dan rasa. Dalam keheningan terkuak kebesaran cinta kasih.
Dia kemudian memelukku dan aku tersenyum dalam kelegaan dan kenyamanan ini. Di dadanya kepalaku bersandar, merebahkan semua beban di hati. Ingin rasanya aku menghentikan waktu, dan berteriak kepada seluruh alam semesta bahwa aku mencintai pria ini.
Dia, mencium ubun-ubunku, dan aku semakin terbuai dan terlelap dalam gelombang asmara. Sungguhkah nyata dunia ini?
Aku ingin menikmati waktu seperti ini selamanya..... aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku bersamanya....
Dan, sayup di kejauhan, aku mendegar sebuah lagu ;
A.......ku ingin mencintaimu, dengan sederhana
dengan kata yang tak pernah diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu......
A......ku ingin mencintaimu, dengan sederhana
dengan kata yang tak pernah diungkapkan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.......
On Children
This is the poetry from the poet that I love the most :
On CHILDREN
And a woman who held a babe against her bosom said, “Speak to us of Children.”
And he said:
Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.
Kahlil Gibran :+: 1833-1931
On CHILDREN
And a woman who held a babe against her bosom said, “Speak to us of Children.”
And he said:
Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.
Kahlil Gibran :+: 1833-1931
04 November 2008
Aku Berhenti Mencari
Aku berhenti mencari
Karena aku sudah menemukan
Aku berhenti mengingat masa lalu
karena aku hidup sekarang
Aku menemukannya
Aku mengenalnya
Aku mencintainya
Aku ingin membagi hati dan hidupku dengannya
Karena aku sudah menemukan
Aku berhenti mengingat masa lalu
karena aku hidup sekarang
Aku menemukannya
Aku mengenalnya
Aku mencintainya
Aku ingin membagi hati dan hidupku dengannya
Ketika dunia masih berputar
matahari masih terbit
jantungku masih berdetak
aku tidak akan berhenti berharap
Dum spiro, spero (selama aku masih bernafas, aku akan selalu berharap)
30 October 2008
PIECE OF PROTES
Pikiranku tergelitik, hatiku merasa ingin berteriak : PROTESSSSSSSS !! hehe.
Ya, banyak hal yang diimani dan diyakini, kemudian terucapkan dengan mudah dari mulut seorang manusia, tapi, rasanya mereka mengucapkannya dengan tidak tahu apa maknanya. Hm, tapi ini opini dan pendapatku, bolehlah yang lain setelah membaca ini protes besar-besaran.
Okeh mari kita ambil banyak contoh :
1. Andi : “Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi apa daya kita berdua berbeda, sangat berbeda. Aku sangat sedih berpisah denganmu, aku sangat ingin dan berharap ada keajaiban yang bisa membuat kita bersama, menikah dan membangun keluarga. Tapi...,kita tidak bisa berdoa bersama, kamu bersujud dan aku membuat tanda salib. Orang tuamu keberatan denganku dan aku pun tidak tahu bagaimana kita akan membangun sebuah keluarga dari dua fondasi yang berbeda. Perbedaan
Maya : “Hisk…mengapa agama menjadi pemisah? Bukankah agama mengajarkan cinta kasih dan kita berdua saling mencintai…ini tidak adil!”
Andi : “Aku juga tahu, tapi kita berbeda agama, hal ini berat sekali........”
CUTT !!!
Mana ekspresinya…ekspresinyaaaaaaaaaaaa!!!
Lohlohloh….hehe, kok jadi iklan? Halah, ngaco ini. Hm back to the topic.
Kenapa percakapan itu yang dibahas? Hm, coba perhatikan sang lelaki yang mengatakan tidak bisa bersama karena perbedaan agama. Sebenarnya siapa yang membuat mereka tidak bisa bersama? Perbedaan? Agama? Tidak keduanya! Justru kedua insan tersebut yang membuat mereka sendiri tidak bisa bersama. Perhatikan percakapan mereka.... Siapa bilang agama memisahkan mereka? Keputusan, keyakinan dan prinsip mereka, atau mungkin ketakutan akan perbedaan, takut akan orang tua, takut akan hal-hal yang belum terjadi yang membuat mereka mundur teratur dari kebersamaan. Jadi kalau ada yang menyalahkan orang lain, sesuatu atau apapun sehingga mereka tidak bisa bersama, aku PROTESSS !! alias tidak setuju. Sebenarnya pikiran manusia, prinsip, keputusan dan tindakan manusia sendirilah yang membuat segala sesuatu menjadi bisa terjadi atau tidak terjadi. Akan berbeda hasilnya jika si Andi kemudian menyikapi perbedaan dengan kelegaan dan penerimaan yang besar, jadi :
Andi : “Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi apa daya kita berdua berbeda, sangat berbeda. Kita tidak bisa berdoa bersama, kamu bersujud dan aku membuat tanda salib. Orang tuamu keberatan denganku namun aku tidak akan menyerah. Kita bisa berjalan sendiri hanya saat kita menyediakan waktu untuk Tuhan, tapi sisanya kita bisa selalu berdua, membagi duka cita dan mengarungi hidup bersama. Walaupun agama kita berbeda aku tidak keberatan, aku ingin hidup denganmu, dengan pribadimu dan dengan semua kelebihan kekuranganmu.”
Maya : “Iya... aku akan berusaha juga, walaupun kita menerima tentangan, cibiran dan mungkin hujatan dari banyak orang. Tapi apalah artinya semua itu, jika kebahagiaan bisa kita dapatkan dalam nama cinta.”
Hisk hisk.... sruotttt, aku menangis terharu, hisk hisk... (woi, ini bukan film tragedi!)
Jadi ingat lagunya Kla, Waktu Tersisa, salah satu syairnya : Ketika norma peradaban terpilih sebagai alasan, mereka ciptakan jurang antara kita. Sampai saat akhir nanti kita berusaha bertahan. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan....
2. Ibu : “Nak..., ibu rela memberikan apa saja untuk kebahagiaanmu, ibu tidak pernah meminta balasan. (Sambil menangis sang ibu memeluk anaknya, terus menangis). Untuk kali ini, turutilah kata-kata ibu, jangan jadi seniman, masuklah perguruan tinggi. Percayalah, orang tua mana yang tidak ingin anaknya berhasil dan sukses. Mana ada orang tua yang menjerumuskan anaknya sendiri ke lubang neraka. Jadi seniman itu susah, nanti tidak bisa hidup mapan....”
Hm...., ada kontradiktif kalimat yang terdapat pada paragraf di atas (kok jadi seperti pelajaran bahasa indonesia gini? :D). Semua orang tahu seorang ibu sangat baik, tidak ada duanya, ada surga di telapak kaki ibu, anak sebaiknya menyayangi, menghormati ibu, tidak akan terbalas kasih dan budi seorang ibu. Lalu? Mengapa aku protes? Karena, ketika seorang ibu mengatakan akan rela memberikan apa saja, tidak pernah meminta balasan, lalu mengapa kemudian ada kalimat : “turutilah kata-kata ibu”? ada pamrih terselubung dalam sebuah cinta kasih ibu. Aku tidak bilang bahwa kemudian semua ibu minta balasan (walaupun beliau-beliau bilang tidak pamrih), tetapi.... apa sebenarnya yang terjadi saat sang ibu menangis? Menangisi anaknya yang tidak menurut? Menangisi (lagi-lagi) ketakutan yang belum terjadi? Takut kalau jadi seniman tidak berhasil, tidak bahagia, tidak akan hidup mapan dan layak. Lalu, jika si anak menikmati sekolah seninya, menjadi seniman, bahagia dan sukses dengan mahakaryanya, sebenarnya apa yang sang ibu dulu tangisi? Aku lebih melihat sebuah tangisan kekecewaan ibu, ketika si anak tidak mau menurutinya, bukan tangisan sedih anaknya tidak berhasil atau salah jalan. Tangisan tadi adalah menangisi diri sendiri dari seorang ibu karena mengapa ketika anaknya sudah dibesarkan dengan susah payah kok tidak mau nurut...., wait wait wait! Katanya tidak minta balasan, tidak pamrih.....
Kedua, protesku adalah mengapa sang ibu begitu yakin jadi seniman itu susah? Tidak bisa mapan? Apakah sang ibu pernah jadi seniman sebelumnya? Kalau ‘Cuma’ dengar cerita dan lihat kenyataan boleh lah memberi nasihat, tapi, kok menurutku, pengalaman adalah yang terbaik. Tidak semua orang yang pernah melihat, mendengar, lebih tua dlsb itu tahu yang terbaik bagi seseorang, dan tahu apa yang akan terjadi. Sekali lagi di sini aku protes karena seolah-olah sang ibu tahu masa depan anaknya seperti apa, tahu pasti kalau jadi ini dan itu akan seperti gini dan gono. Yah....jalanilah dulu wahai si anak, apapun yang terjadi, sukses, tidak sukses itulah hidup, jangan menyesal ketika gagal. Bukan berarti kalau gagal karena tidak menuruti orang tua, tapi karena ada sesuatu yang membuat impian gagal, mungkin kurang bakat, mungkin tidak sesuai....itu saatnya berusaha lagi, tidak berhasil bukan berarti tidak selamanya, mungkin saja belum berhasil ( yang penting hati nurani bahagia dan berdendang lagu gembira ketika melakukan suatu pekerjaan).
Aku tidak menginspirasi orang untuk tidak menuruti orang tua atau ibunya loh ya...., tapi, tidak menuruti kata ibu bukan berarti tidak membalas budi baik orang tua. Ada banyak beribu-ribu cara membalas budi baik orang tua, ibu khususnya. Aku ingat sebuah film Paying Forward, di situ kebaikan orang lain bukan dibalas balik ke orang yang memberi kebaikan, tetapi cara membalasnya dengan memberikan kebaikan ke orang lain. Akhirnya jalinan rantai kebaikan itu melingkar dan kembali ke orang yang pertama kali memberi kebaikan. How strange, but it’s true. Aku lebih suka jika kebaikan itu diibaratkan seperti sinar cahaya. Sinar bisa dipantulkan, diteruskan dan dibiaskan. Pantulkanlah kembali ke orang yang memberi, teruskanlah pada orang lain sebanyak-banyakan, biaskanlah sampai semua merasakan. Sinar, atau cahaya bisa dilihat mata manusia dari jarak tak terhingga (ini sungguh benar, semua orang bisa melihat bintang tanpa harus pakai kacamata). Bahkan mata yang buta sesuai kriteria WHO pun masih bisa melihat cahaya (kecuali buta total, di mana visus = 0). So, kebaikan dari orang tua bisa dipantulkan kembali (dengan caranya masing-masing), dibiaskan ke sekitarnya dan diteruskan seorang anak ke cucunya, cucu ke cicitnya dan seterusnya.............
3. Ibu Tuti (tukang n’ggotip /nggosip maksudnya, mekso ya hehe) : “Eh, tau ga, si Banu tuh cacat mental, pasti karena orang tuanya banyak dosa. Tau sendiri kan ibunya bekas pelacur, bapaknya dulu suka mabuk, mukulin orang. Makanya gitu tuh, dihukum Tuhan, dikasih peringatan. Sekarang anaknya idiot, cacat...” (bayangin si ibu ini sambil mencibir dan ‘idhu’nya nyiprat-nyiprat)
Ibu Tuna (kok kayak ikan? Aritnya tukang onar) : “Iyah ya, pasti gara-gara itu. Makanya ingat ma Tuhan, harus bertobat, eling-eling.... nek kakean dosa yo ngono kuwi / kalo kebanyakan dosa ya seperti itu tuh”
Weittt, ciiaat....hak duk dak jesh tung prang pyar.... Kalau aku di sana tuh, secara kartun akan kutampar dan kutendang mereka berdua (lo kok anarkis? Ya biarin, kan secara kartun yeee). Maksudnya gini, aku protesssss bueraaaaaaatttttt, banget pula (sabar bu, sabar bu...wusshaaa, tarik napas, ya keluarin, yak ayo dorongg...push push push! Eit? Emang aku mau bayen?). Kok ya manusia tuh sukanya memberi label dan cap seenaknya sendiri ya? Ini nih yang paling sering terjadi di masyarakat, kadang ketika ada yang sakit, yang mengalami kesialan, kecelakaan, tidak sukses, gila atau apalah kemudian kejadian-kejadian sebelumnya dihubung-hubungkan. Apalagi yang berhubungan dengan kesalahan, dosa dlsb. Itu tidak benarrrrrrrr !! Apa orang yang dulunya berdosa lalu kemudian hidupnya jadi susah? Hmmm, menurutku tidak, hidup susah yang dia alami biasanya berhubungan dengan perbuatan terdahulunya, siapa menabur dia menuai. Ya kalo dia membunuh ya yang dia pasti dipenjara, itulah tuaiannya, hidup susah di penjara. Tapi hidup susah bukan berarti lalu Tuhan kasih kiriman alias bingkisan bertuliskan : HIDUPMU SUSAH. Bukan, bukan itu, kok Tuhan jahat sekali memberi bingkisan-bingkisan tidak mengenakkan. Contoh tadi di atas, ketika si Banu lahir dalam keadaan cacat, idiot, kemudian orang mulai membicarakan soal tulah, kutuk, dosa dlsb. Mereka menganggap itu kutukan Tuhan atas dosa orang tua. Woooo....salah besar, Tuhan sejahat itukah memberikan hukuman pada manusianya? Banu idiot karena proses genetik yang tidak sempurna, bukan karena dosa orang tuanya. Apa ya kalau orang tuanya tidak berdosa (dosa dalam artian ibu-ibu tadi), kalau dulu ibunya sekretaris dan ayahnya sopir lalu menjamin Banu jadi tidak idiot? Siapa bilang.... kejadian anak lahir idiot/cacat/syndrome down itu ada dalam sepersekian ratus ribu orang. Itu merupakan kesempatan (seperti kata Blaise Pascal). Lalu siapa yang membuat perubahan genetik itu? Ya itu memang kuasa Tuhan, tapi bukan berarti Tuhan memberi hukuman. Tuhan tahu bahwa ada hal yang harus terjadi, entah apa itu.....
So, ingat, aku PROTESSS, tidak setuju kalau kutukan, sakit, sial dan apalah yang jelek-jelek terjadi karena orang membawa dosa, aib, karena ga nurut orang tua, karena nikah tanggal ini, karena bikin rumah di tanah itu, karena apalah.... It’s just must be done to all humanity, as God wills.
Fiuh...banyak yah...padahal baru tiga hal yang aku protesin. Hem ehem... pasti pada udah mikir dan mulai pengen protes ya. Gak papa, wajar, itu semua hanyalah opini, so kalau tidak sesuai ya maklum. Nilai-nilai dan keyakinan yang dianut kan berbeda-beda. Aku hanya ingin membuka jendela otakku dan mengalirkan isinya ke sebuah tulisan sehingga. Ces’t la vie...PROTES
23 July 2008
BERHITUNG
Pernahkan Anda sakit hati? baik disakiti dengan sengaja maupun tidak sengaja?
manusia paling tidak suka sakit hati, apalagi patah hati, dikecawakan, dikhianati. Wuih, kalau manusia tidak punya perasaan akan lebih mudah untuk menghadapinya. Tapi ternyata kita, manusia, human being is alive, bukan benda mati.
Ada dua hal yang sebaiknya manusia tidak hitung :
1. Kesalahan orang lain yang pernah dibuat sehingga manusia sakit hati dan kecewa dan saudara-saudaranya (saudaranya kecewa maksudnye hehe). Semakin kita berhitung berapa orang yang sudah menyakiti kita, makin tidak bahagia hidup kita, makin penuh dengan dendam dan rasa pahit di hati dan itu menyebabkan manusia tidak bahagia.
2. Perbuatan baik yang manusia pernah lakukan untuk orang lain. Karena semakin berhitung berapa orang yang pernah kita tolong dan bantu, semakin pamrih kita akan balasan orang lain. Ketika orang lain tidak baik dengan manusia, banyak yang bertanya-tanya kita, mengapa setelah jadi orang baik terus kok ga ada yang baik pada kita?kemudian jadilah dia manusia yang tidak mau lagi berbuat baik, yang sudah capai berbuat baik karena tidak pernah mendapat balasan baik. So? jangan mengharap orang lain akan melakukan hal yang sama yang pernah kita lakukan. Just do it, when you do it, you mean it.
Ces't la vie....
manusia paling tidak suka sakit hati, apalagi patah hati, dikecawakan, dikhianati. Wuih, kalau manusia tidak punya perasaan akan lebih mudah untuk menghadapinya. Tapi ternyata kita, manusia, human being is alive, bukan benda mati.
Ada dua hal yang sebaiknya manusia tidak hitung :
1. Kesalahan orang lain yang pernah dibuat sehingga manusia sakit hati dan kecewa dan saudara-saudaranya (saudaranya kecewa maksudnye hehe). Semakin kita berhitung berapa orang yang sudah menyakiti kita, makin tidak bahagia hidup kita, makin penuh dengan dendam dan rasa pahit di hati dan itu menyebabkan manusia tidak bahagia.
2. Perbuatan baik yang manusia pernah lakukan untuk orang lain. Karena semakin berhitung berapa orang yang pernah kita tolong dan bantu, semakin pamrih kita akan balasan orang lain. Ketika orang lain tidak baik dengan manusia, banyak yang bertanya-tanya kita, mengapa setelah jadi orang baik terus kok ga ada yang baik pada kita?kemudian jadilah dia manusia yang tidak mau lagi berbuat baik, yang sudah capai berbuat baik karena tidak pernah mendapat balasan baik. So? jangan mengharap orang lain akan melakukan hal yang sama yang pernah kita lakukan. Just do it, when you do it, you mean it.
Ces't la vie....
06 July 2008
PTT (Pegawai Tidak Tetap,Pegawai Tidak Terurus)
Dulunyeeeee…PTT itu wajib hukumnya. Pegawai Tidak Tetap, jadi kalau udah lulus jadi dokter, kudu mengikuti program Wajib Kerja Sarjana, mau ditempatin di tempat pelosok, mengabdi kepada Negara dan bangsa. Nah sesuai keputusan Menkes yang terbaru, sekarang udah ga wajib lagi. Tapi secara aku ga mau punya utang ma Negara (baca : ntar kalau kepmenkes berubah lagi), mending ikut jadi PTT aja, ditempatin di tempat pelosok gpp dah, kan cumin setaun. Kalau dulu bisa sampe 3 tahun (alamak….).
Depkes sekarang buka lowongan untuk PTT dengan kriteria Terpencil dan Sangat Terpencil. Beberapa saat sebelum aku lulus dokter, criteria ST cuma 6 bulan bok!! Udah dapet insentif sekian jeti, cuma 6 bulan pula. Wah menggiurkan bangetttt (kan bisa sekalian nabung untuk sekolah keh, kawin kek J ). Tapi saingannya…naujubilah….seluruh dokter di Indonesia. Dari yang tua, muda, bujang, duda, suami, istri, janda (stopp! Ga penting). Kadang sekali daftar belum tentu dapet tempat ey. Terus setelah aku lulus, pengumuman PTT pusat berubah lagi, jadi yang ST pun tetep setahun seperti yang T. Waaaa ini lebih menggiurkan lagi, menabungnya jadi lebih gedhe dunk. Jadilah makin banyak yang berminat memilih criteria ST.
Tunggu-tunggu… aku belum cerita prosesnya gimana. Jadi dokter mengirim berkas-berkas lamaran ke Depkes, disertai daerah mana (kabupaten atau kota) yang dipilih (yang sudah diajukan oleh Depkes). Ga semua daerah bisa dijadiin tempat PTT lo, dan of course, di luar Jawa dan Bali. Depkes membuka lowongan untuk PTT pun juga tidak setiap bulan, duluuuuuuuuu katanya tiap bulan buka. Tapi nyatanya tiap 6 bulan dan itu pun ga pasti bulannya. Dengan niat dan semangat yang amat tinggi, aku milih daerah di NTT (sambil mikir daerah Riau juga). Pertama ngeliat kebutuhan dokter yang dibutuhkan banyak, trus akses ke daerah tersebut. Awalnya tergoda juga ke Papua, tapi wah naik pesawat dari Jogja tuh bisa setengah hari sendiri.
Waktu itu bulan Maret, bukaan untuk PTT pusat April udah ada, dengan pedenya milihi kabupaten Kupang, dalam benakku sih biar deket ma Kota Kupang. Dan kriterianya Sangat Terpencil. Bulan April secara dag dig dug melihat pengumuman, yaaahh… gagal deh. Rasanya mikir, kalau ga ada bukaan lagi dalam waktu dekat gimana ya? Ternyata, bulan Mei ada lagi. Jadi April akhir kirim berkas ke Depkes, kali ini milihnya criteria T, supaya cepet keterima, soalnya ga banyak yang minat ke criteria T ini.
Yuhuu…keterima ey, di Kota Kupang, sambil berharap2 kota punya duit untuk kasih insentif ke dr-dr, kalau ga… wuih gaji pokok PTT tuh kueciilll.
Walau ga jadi keterima di Kabupaten Kupang, tapi aku bersyukur banget, bayangin aja kalau keterima di Kab Kupang, daerahnya nyampe di Pulau Sabu (yak bukalah atlas Indonesia teman-teman!, di gugusan pulau-pulau NTT ada pulau yang terletak di selatan, kecil, bernama Sabu). Untunglah… kadang aku juga ga yakin apa bisa hidup di daerah sangat terpencil, ngeri denger cerita yang sudah pernah ke tempat-tempat pelosok gitu. Naik kapal 3 hari, ga ada listrik dan sinyal, bakal di guna-guna lah macem2….aja ceritanya. Tapi intinya In the Name of Jesus aja deh, pasti ga akan ada apa-apa.
Waktu berangkat aku berlima dari Jogja, ceritanya rombongan dari Jogja yang ke NTT ada 6, 5 dokter umum dan 1 dokter gigi. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti lancarrrrrr banget, dateng ke kota Kupang udah ada yang jemput, udah ditampung di rumah temen. Soalnya waktu itu ada kakak kelas yang asli Manggarai, dan dia punya kerabat di Kota Kupang, jadilah kita ber 4 numpang di tempat kerabatnya. Sedangkan yang 1 lagi tinggal di susteran. Tapi syukur banget deh udah ada yang ngurus sampai di sana. Bayangin aja kalo harus tinggal di hotel, ga ada yg kasih tau jalan dlsb.
Tik tok tik tok tik tok….
Setelah sekian hari, dapet deh penempatan puskesmas, beberapa hari masih bingung dan ya… dag dig dug, berharap ga dapet puskesmas rawat inap lah dlsb. Akhirnya……tempatku bertugas adalah Puskesmas NAIONI. Tempatnya lumayan nyempit, di ujung kota Kupang, sekitar 15 km dari pusat kota, 35 menit karena jalannya jelek, di sono sinyal susah, air bersih susssaaaaahhh banget (alias ga ada), listrik ada tapi sering mati-mati. Waktu itu sambil deg-degan aku berharap jangan jadi kepala puskesmas di situ, maklum katanya udah 2 dokter PTT jadi kepala puskesmas. Yaaahhh, males banget ga sih udah gaji dikit, ga dapet tunjangan, kerjaan banyak, ngurusin orang yang notabene biasanya susah diatur (kok yakin? Feeling aja hehe).
Dan emang bener, berita buruk itu datang… aku jadi kepala puskesmas! Rasanya terbeban kerjaan yang aku sendiri belum pernah ngerti apa aja. Ketika keputusan itu datang, pada kasih selamat, dapet mobil dinas, dapet rumah dinas (yaks,bukan masalah materi yang kudapat, tapi beban kerjanya bok!). Yah, namanya manusia, kurang bersyukur, dapet kesempatan mengembangkan diri dan potensi malah ditolak-tolak. Akhirnya dengan berat hati aku jadi kepala puskesmas, dengan pegawai sekitar 25 orangan (sama pustu juga), dengan wilayah yang cukup luas dan hampir semua penduduknya miskin. Oke, gpp, tantangan….
Ternyata tantangan ga sampai di situ doang, pastilah ada orang-orang yang ga setuju. Siapa sih aku? Dokter masih ijo gini jadi kepala puskesmas? Hmm.. ada aja yang bikin aku ga nyaman di Puskesmas.
Emang berat juga tinggal di rumah dinas sendirian, mana di sekitarnya ga ada warung. Ah..gpp dicoba aja, ntar weekend turun gunung ke kota, bobok di kost. Fiuh….ternyata berat juga. Pengennya semua orang seneng, penduduk seneng dokternya tinggal di deket Puskesmas, kepala dinas seneng dokternya mengabdi. Tapi malah jadi tersiksa sendiri. Tapi malem jadi ga bisa ke mana-mana, mau nyambi di RS, Klinik jadi terhambat karena jarak. Akhirnya 4 bulan tinggal di rumah dinas, diputuskan, pindah ke kota aja deh. Toh tidak ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa dokter harus tinggal di rumah dinas. Paling ga aku masih di tempat tugas, tiap hari masuk, melayani pasien, ngurusin struktural dan manajemen. Beraaatttt banget bebannya (atau aku yang terlalu menganggap berat ya?). Ngurusin duit –sambil diprotes sana sini, ngursusin laporan – yang datanya ga lengkap dan setengah-setengah, ngurusin program – yang pencapaiannya selalu jauh dari target, ngurusin pegawai – yang pada malas, kadang ga masuk, terlambat, ijin ini itu. Yahh…. Waktu itu belum bisa menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan motivasi, secara memang gaji mereka kecil, tunjangan ga seberapa, uang transport juga kecil, ya…. Kalau bilang kalian kan udah digaji, PNS memang tugasnya mengabdi ma Negara – bullshit banget, mereka punya keluarga, punya anak yang harus dikasih makan, sekolah dlsb, mana sempet mikirin orang lain, mikirin penduduk yang belum bisa menjaga kesehatan, yang belum peduli hidup bersih dan sehat itu penting, yang ga ngerti gizi buruk itu jelek, ga ngerti diare itu bahaya. Yaaah.. ces’t la vie, dan aku pun juga punya keinginan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Pengalaman klinis, duit ? itu nomor sekian, tapi sapa bilang ga butuh duit untuk makan?
Emang berat, rasanya seperti menghitung hari, tiap hari tiap bulan adaaaa aja masalah. Tapi itu resiko, aku udah milih jadi dokter PTT, pegawai tidak tetap, pegawai tidak terurus (gaji datang terlambat, ga ada tunjangan apa-apa – untuk ada mobil dinas). Intinya pihak kota ga peduli, toh aku pegawai pusat, Depkes punya, untuk apa dirawat dan dirumat.
Fiuh, ini cerita pa curhat? Hehehe, tapi banyak cerita menarik selama aku PTT, pengalaman pasti nambah, karena aku ga mau di puskesmas doang. Aku juga nyambi di RSB, biar ga tambah bodho aja. Di RS pasti kasusnya lebih bervariasi, banyak kasus gawat yang bisa kutangani, transfer ilmu dari para Spesialis juga. Pokoknya puassss banget bisa kerja di RSB….
So…end of the story, setelah aku selesai PTT, puskesmasku sempet kosong 3 bulan tanpa kepala puskesmas definitif. Pegawai pada protes, minta kepala puskesmas PNS, okelah, karena mereka merasa ga dihargai, masa kepala puskesmasnya ganti-ganti terus. Hm..no comment, sebenarnya ga masalah siapa kepalanya, yang penting semua komponen bekerja sesuai porsi dan kemampuan masing-masing. Ga usah terlalu memikirkan apa yang akan didapat, tapi apa yang bisa diberikan (missal tenaga, pikiran). Aku pikir bekerja merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas karunia yang Dia berikan, dimanapun. Tuhan tidak pernah tidak memberikan rejeki pada umatnya. Tergantung kita menilai cukup atau tidak, kalau ga pernah cukup, ya selamanya miskin (bukan miskin materi, tapi rasa miskin yang diciptakan manusia itu sendiri).
Oke, selamat bekerja untuk semua dokter PTT!!!
Depkes sekarang buka lowongan untuk PTT dengan kriteria Terpencil dan Sangat Terpencil. Beberapa saat sebelum aku lulus dokter, criteria ST cuma 6 bulan bok!! Udah dapet insentif sekian jeti, cuma 6 bulan pula. Wah menggiurkan bangetttt (kan bisa sekalian nabung untuk sekolah keh, kawin kek J ). Tapi saingannya…naujubilah….seluruh dokter di Indonesia. Dari yang tua, muda, bujang, duda, suami, istri, janda (stopp! Ga penting). Kadang sekali daftar belum tentu dapet tempat ey. Terus setelah aku lulus, pengumuman PTT pusat berubah lagi, jadi yang ST pun tetep setahun seperti yang T. Waaaa ini lebih menggiurkan lagi, menabungnya jadi lebih gedhe dunk. Jadilah makin banyak yang berminat memilih criteria ST.
Tunggu-tunggu… aku belum cerita prosesnya gimana. Jadi dokter mengirim berkas-berkas lamaran ke Depkes, disertai daerah mana (kabupaten atau kota) yang dipilih (yang sudah diajukan oleh Depkes). Ga semua daerah bisa dijadiin tempat PTT lo, dan of course, di luar Jawa dan Bali. Depkes membuka lowongan untuk PTT pun juga tidak setiap bulan, duluuuuuuuuu katanya tiap bulan buka. Tapi nyatanya tiap 6 bulan dan itu pun ga pasti bulannya. Dengan niat dan semangat yang amat tinggi, aku milih daerah di NTT (sambil mikir daerah Riau juga). Pertama ngeliat kebutuhan dokter yang dibutuhkan banyak, trus akses ke daerah tersebut. Awalnya tergoda juga ke Papua, tapi wah naik pesawat dari Jogja tuh bisa setengah hari sendiri.
Waktu itu bulan Maret, bukaan untuk PTT pusat April udah ada, dengan pedenya milihi kabupaten Kupang, dalam benakku sih biar deket ma Kota Kupang. Dan kriterianya Sangat Terpencil. Bulan April secara dag dig dug melihat pengumuman, yaaahh… gagal deh. Rasanya mikir, kalau ga ada bukaan lagi dalam waktu dekat gimana ya? Ternyata, bulan Mei ada lagi. Jadi April akhir kirim berkas ke Depkes, kali ini milihnya criteria T, supaya cepet keterima, soalnya ga banyak yang minat ke criteria T ini.
Yuhuu…keterima ey, di Kota Kupang, sambil berharap2 kota punya duit untuk kasih insentif ke dr-dr, kalau ga… wuih gaji pokok PTT tuh kueciilll.
Walau ga jadi keterima di Kabupaten Kupang, tapi aku bersyukur banget, bayangin aja kalau keterima di Kab Kupang, daerahnya nyampe di Pulau Sabu (yak bukalah atlas Indonesia teman-teman!, di gugusan pulau-pulau NTT ada pulau yang terletak di selatan, kecil, bernama Sabu). Untunglah… kadang aku juga ga yakin apa bisa hidup di daerah sangat terpencil, ngeri denger cerita yang sudah pernah ke tempat-tempat pelosok gitu. Naik kapal 3 hari, ga ada listrik dan sinyal, bakal di guna-guna lah macem2….aja ceritanya. Tapi intinya In the Name of Jesus aja deh, pasti ga akan ada apa-apa.
Waktu berangkat aku berlima dari Jogja, ceritanya rombongan dari Jogja yang ke NTT ada 6, 5 dokter umum dan 1 dokter gigi. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti lancarrrrrr banget, dateng ke kota Kupang udah ada yang jemput, udah ditampung di rumah temen. Soalnya waktu itu ada kakak kelas yang asli Manggarai, dan dia punya kerabat di Kota Kupang, jadilah kita ber 4 numpang di tempat kerabatnya. Sedangkan yang 1 lagi tinggal di susteran. Tapi syukur banget deh udah ada yang ngurus sampai di sana. Bayangin aja kalo harus tinggal di hotel, ga ada yg kasih tau jalan dlsb.
Tik tok tik tok tik tok….
Setelah sekian hari, dapet deh penempatan puskesmas, beberapa hari masih bingung dan ya… dag dig dug, berharap ga dapet puskesmas rawat inap lah dlsb. Akhirnya……tempatku bertugas adalah Puskesmas NAIONI. Tempatnya lumayan nyempit, di ujung kota Kupang, sekitar 15 km dari pusat kota, 35 menit karena jalannya jelek, di sono sinyal susah, air bersih susssaaaaahhh banget (alias ga ada), listrik ada tapi sering mati-mati. Waktu itu sambil deg-degan aku berharap jangan jadi kepala puskesmas di situ, maklum katanya udah 2 dokter PTT jadi kepala puskesmas. Yaaahhh, males banget ga sih udah gaji dikit, ga dapet tunjangan, kerjaan banyak, ngurusin orang yang notabene biasanya susah diatur (kok yakin? Feeling aja hehe).
Dan emang bener, berita buruk itu datang… aku jadi kepala puskesmas! Rasanya terbeban kerjaan yang aku sendiri belum pernah ngerti apa aja. Ketika keputusan itu datang, pada kasih selamat, dapet mobil dinas, dapet rumah dinas (yaks,bukan masalah materi yang kudapat, tapi beban kerjanya bok!). Yah, namanya manusia, kurang bersyukur, dapet kesempatan mengembangkan diri dan potensi malah ditolak-tolak. Akhirnya dengan berat hati aku jadi kepala puskesmas, dengan pegawai sekitar 25 orangan (sama pustu juga), dengan wilayah yang cukup luas dan hampir semua penduduknya miskin. Oke, gpp, tantangan….
Ternyata tantangan ga sampai di situ doang, pastilah ada orang-orang yang ga setuju. Siapa sih aku? Dokter masih ijo gini jadi kepala puskesmas? Hmm.. ada aja yang bikin aku ga nyaman di Puskesmas.
Emang berat juga tinggal di rumah dinas sendirian, mana di sekitarnya ga ada warung. Ah..gpp dicoba aja, ntar weekend turun gunung ke kota, bobok di kost. Fiuh….ternyata berat juga. Pengennya semua orang seneng, penduduk seneng dokternya tinggal di deket Puskesmas, kepala dinas seneng dokternya mengabdi. Tapi malah jadi tersiksa sendiri. Tapi malem jadi ga bisa ke mana-mana, mau nyambi di RS, Klinik jadi terhambat karena jarak. Akhirnya 4 bulan tinggal di rumah dinas, diputuskan, pindah ke kota aja deh. Toh tidak ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa dokter harus tinggal di rumah dinas. Paling ga aku masih di tempat tugas, tiap hari masuk, melayani pasien, ngurusin struktural dan manajemen. Beraaatttt banget bebannya (atau aku yang terlalu menganggap berat ya?). Ngurusin duit –sambil diprotes sana sini, ngursusin laporan – yang datanya ga lengkap dan setengah-setengah, ngurusin program – yang pencapaiannya selalu jauh dari target, ngurusin pegawai – yang pada malas, kadang ga masuk, terlambat, ijin ini itu. Yahh…. Waktu itu belum bisa menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan motivasi, secara memang gaji mereka kecil, tunjangan ga seberapa, uang transport juga kecil, ya…. Kalau bilang kalian kan udah digaji, PNS memang tugasnya mengabdi ma Negara – bullshit banget, mereka punya keluarga, punya anak yang harus dikasih makan, sekolah dlsb, mana sempet mikirin orang lain, mikirin penduduk yang belum bisa menjaga kesehatan, yang belum peduli hidup bersih dan sehat itu penting, yang ga ngerti gizi buruk itu jelek, ga ngerti diare itu bahaya. Yaaah.. ces’t la vie, dan aku pun juga punya keinginan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Pengalaman klinis, duit ? itu nomor sekian, tapi sapa bilang ga butuh duit untuk makan?
Emang berat, rasanya seperti menghitung hari, tiap hari tiap bulan adaaaa aja masalah. Tapi itu resiko, aku udah milih jadi dokter PTT, pegawai tidak tetap, pegawai tidak terurus (gaji datang terlambat, ga ada tunjangan apa-apa – untuk ada mobil dinas). Intinya pihak kota ga peduli, toh aku pegawai pusat, Depkes punya, untuk apa dirawat dan dirumat.
Fiuh, ini cerita pa curhat? Hehehe, tapi banyak cerita menarik selama aku PTT, pengalaman pasti nambah, karena aku ga mau di puskesmas doang. Aku juga nyambi di RSB, biar ga tambah bodho aja. Di RS pasti kasusnya lebih bervariasi, banyak kasus gawat yang bisa kutangani, transfer ilmu dari para Spesialis juga. Pokoknya puassss banget bisa kerja di RSB….
So…end of the story, setelah aku selesai PTT, puskesmasku sempet kosong 3 bulan tanpa kepala puskesmas definitif. Pegawai pada protes, minta kepala puskesmas PNS, okelah, karena mereka merasa ga dihargai, masa kepala puskesmasnya ganti-ganti terus. Hm..no comment, sebenarnya ga masalah siapa kepalanya, yang penting semua komponen bekerja sesuai porsi dan kemampuan masing-masing. Ga usah terlalu memikirkan apa yang akan didapat, tapi apa yang bisa diberikan (missal tenaga, pikiran). Aku pikir bekerja merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas karunia yang Dia berikan, dimanapun. Tuhan tidak pernah tidak memberikan rejeki pada umatnya. Tergantung kita menilai cukup atau tidak, kalau ga pernah cukup, ya selamanya miskin (bukan miskin materi, tapi rasa miskin yang diciptakan manusia itu sendiri).
Oke, selamat bekerja untuk semua dokter PTT!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)