30 October 2008

PIECE OF PROTES


Pikiranku tergelitik, hatiku merasa ingin berteriak : PROTESSSSSSSS !! hehe.
Ya, banyak hal yang diimani dan diyakini, kemudian terucapkan dengan mudah dari mulut seorang manusia, tapi, rasanya mereka mengucapkannya dengan tidak tahu apa maknanya. Hm, tapi ini opini dan pendapatku, bolehlah yang lain setelah membaca ini protes besar-besaran.
Okeh mari kita ambil banyak contoh :
1. Andi : “Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi apa daya kita berdua berbeda, sangat berbeda. Aku sangat sedih berpisah denganmu, aku sangat ingin dan berharap ada keajaiban yang bisa membuat kita bersama, menikah dan membangun keluarga. Tapi...,kita tidak bisa berdoa bersama, kamu bersujud dan aku membuat tanda salib. Orang tuamu keberatan denganku dan aku pun tidak tahu bagaimana kita akan membangun sebuah keluarga dari dua fondasi yang berbeda. Perbedaan yang membuat kita tidak bisa bersama.”
Maya : “Hisk…mengapa agama menjadi pemisah? Bukankah agama mengajarkan cinta kasih dan kita berdua saling mencintai…ini tidak adil!”
Andi : “Aku juga tahu, tapi kita berbeda agama, hal ini berat sekali........”
CUTT !!!
Mana ekspresinya…ekspresinyaaaaaaaaaaaa!!!
Lohlohloh….hehe, kok jadi iklan? Halah, ngaco ini. Hm back to the topic.
Kenapa percakapan itu yang dibahas? Hm, coba perhatikan sang lelaki yang mengatakan tidak bisa bersama karena perbedaan agama. Sebenarnya siapa yang membuat mereka tidak bisa bersama? Perbedaan? Agama? Tidak keduanya! Justru kedua insan tersebut yang membuat mereka sendiri tidak bisa bersama. Perhatikan percakapan mereka.... Siapa bilang agama memisahkan mereka? Keputusan, keyakinan dan prinsip mereka, atau mungkin ketakutan akan perbedaan, takut akan orang tua, takut akan hal-hal yang belum terjadi yang membuat mereka mundur teratur dari kebersamaan. Jadi kalau ada yang menyalahkan orang lain, sesuatu atau apapun sehingga mereka tidak bisa bersama, aku PROTESSS !! alias tidak setuju. Sebenarnya pikiran manusia, prinsip, keputusan dan tindakan manusia sendirilah yang membuat segala sesuatu menjadi bisa terjadi atau tidak terjadi. Akan berbeda hasilnya jika si Andi kemudian menyikapi perbedaan dengan kelegaan dan penerimaan yang besar, jadi :
Andi : “Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi apa daya kita berdua berbeda, sangat berbeda. Kita tidak bisa berdoa bersama, kamu bersujud dan aku membuat tanda salib. Orang tuamu keberatan denganku namun aku tidak akan menyerah. Kita bisa berjalan sendiri hanya saat kita menyediakan waktu untuk Tuhan, tapi sisanya kita bisa selalu berdua, membagi duka cita dan mengarungi hidup bersama. Walaupun agama kita berbeda aku tidak keberatan, aku ingin hidup denganmu, dengan pribadimu dan dengan semua kelebihan kekuranganmu.”
Maya : “Iya... aku akan berusaha juga, walaupun kita menerima tentangan, cibiran dan mungkin hujatan dari banyak orang. Tapi apalah artinya semua itu, jika kebahagiaan bisa kita dapatkan dalam nama cinta.”
Hisk hisk.... sruotttt, aku menangis terharu, hisk hisk... (woi, ini bukan film tragedi!)
Jadi ingat lagunya Kla, Waktu Tersisa, salah satu syairnya : Ketika norma peradaban terpilih sebagai alasan, mereka ciptakan jurang antara kita. Sampai saat akhir nanti kita berusaha bertahan. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan....

2. Ibu : “Nak..., ibu rela memberikan apa saja untuk kebahagiaanmu, ibu tidak pernah meminta balasan. (Sambil menangis sang ibu memeluk anaknya, terus menangis). Untuk kali ini, turutilah kata-kata ibu, jangan jadi seniman, masuklah perguruan tinggi. Percayalah, orang tua mana yang tidak ingin anaknya berhasil dan sukses. Mana ada orang tua yang menjerumuskan anaknya sendiri ke lubang neraka. Jadi seniman itu susah, nanti tidak bisa hidup mapan....”
Hm...., ada kontradiktif kalimat yang terdapat pada paragraf di atas (kok jadi seperti pelajaran bahasa indonesia gini? :D). Semua orang tahu seorang ibu sangat baik, tidak ada duanya, ada surga di telapak kaki ibu, anak sebaiknya menyayangi, menghormati ibu, tidak akan terbalas kasih dan budi seorang ibu. Lalu? Mengapa aku protes? Karena, ketika seorang ibu mengatakan akan rela memberikan apa saja, tidak pernah meminta balasan, lalu mengapa kemudian ada kalimat : “turutilah kata-kata ibu”? ada pamrih terselubung dalam sebuah cinta kasih ibu. Aku tidak bilang bahwa kemudian semua ibu minta balasan (walaupun beliau-beliau bilang tidak pamrih), tetapi.... apa sebenarnya yang terjadi saat sang ibu menangis? Menangisi anaknya yang tidak menurut? Menangisi (lagi-lagi) ketakutan yang belum terjadi? Takut kalau jadi seniman tidak berhasil, tidak bahagia, tidak akan hidup mapan dan layak. Lalu, jika si anak menikmati sekolah seninya, menjadi seniman, bahagia dan sukses dengan mahakaryanya, sebenarnya apa yang sang ibu dulu tangisi? Aku lebih melihat sebuah tangisan kekecewaan ibu, ketika si anak tidak mau menurutinya, bukan tangisan sedih anaknya tidak berhasil atau salah jalan. Tangisan tadi adalah menangisi diri sendiri dari seorang ibu karena mengapa ketika anaknya sudah dibesarkan dengan susah payah kok tidak mau nurut...., wait wait wait! Katanya tidak minta balasan, tidak pamrih.....
Kedua, protesku adalah mengapa sang ibu begitu yakin jadi seniman itu susah? Tidak bisa mapan? Apakah sang ibu pernah jadi seniman sebelumnya? Kalau ‘Cuma’ dengar cerita dan lihat kenyataan boleh lah memberi nasihat, tapi, kok menurutku, pengalaman adalah yang terbaik. Tidak semua orang yang pernah melihat, mendengar, lebih tua dlsb itu tahu yang terbaik bagi seseorang, dan tahu apa yang akan terjadi. Sekali lagi di sini aku protes karena seolah-olah sang ibu tahu masa depan anaknya seperti apa, tahu pasti kalau jadi ini dan itu akan seperti gini dan gono. Yah....jalanilah dulu wahai si anak, apapun yang terjadi, sukses, tidak sukses itulah hidup, jangan menyesal ketika gagal. Bukan berarti kalau gagal karena tidak menuruti orang tua, tapi karena ada sesuatu yang membuat impian gagal, mungkin kurang bakat, mungkin tidak sesuai....itu saatnya berusaha lagi, tidak berhasil bukan berarti tidak selamanya, mungkin saja belum berhasil ( yang penting hati nurani bahagia dan berdendang lagu gembira ketika melakukan suatu pekerjaan).
Aku tidak menginspirasi orang untuk tidak menuruti orang tua atau ibunya loh ya...., tapi, tidak menuruti kata ibu bukan berarti tidak membalas budi baik orang tua. Ada banyak beribu-ribu cara membalas budi baik orang tua, ibu khususnya. Aku ingat sebuah film Paying Forward, di situ kebaikan orang lain bukan dibalas balik ke orang yang memberi kebaikan, tetapi cara membalasnya dengan memberikan kebaikan ke orang lain. Akhirnya jalinan rantai kebaikan itu melingkar dan kembali ke orang yang pertama kali memberi kebaikan. How strange, but it’s true. Aku lebih suka jika kebaikan itu diibaratkan seperti sinar cahaya. Sinar bisa dipantulkan, diteruskan dan dibiaskan. Pantulkanlah kembali ke orang yang memberi, teruskanlah pada orang lain sebanyak-banyakan, biaskanlah sampai semua merasakan. Sinar, atau cahaya bisa dilihat mata manusia dari jarak tak terhingga (ini sungguh benar, semua orang bisa melihat bintang tanpa harus pakai kacamata). Bahkan mata yang buta sesuai kriteria WHO pun masih bisa melihat cahaya (kecuali buta total, di mana visus = 0). So, kebaikan dari orang tua bisa dipantulkan kembali (dengan caranya masing-masing), dibiaskan ke sekitarnya dan diteruskan seorang anak ke cucunya, cucu ke cicitnya dan seterusnya.............

3. Ibu Tuti (tukang n’ggotip /nggosip maksudnya, mekso ya hehe) : “Eh, tau ga, si Banu tuh cacat mental, pasti karena orang tuanya banyak dosa. Tau sendiri kan ibunya bekas pelacur, bapaknya dulu suka mabuk, mukulin orang. Makanya gitu tuh, dihukum Tuhan, dikasih peringatan. Sekarang anaknya idiot, cacat...” (bayangin si ibu ini sambil mencibir dan ‘idhu’nya nyiprat-nyiprat)
Ibu Tuna (kok kayak ikan? Aritnya tukang onar) : “Iyah ya, pasti gara-gara itu. Makanya ingat ma Tuhan, harus bertobat, eling-eling.... nek kakean dosa yo ngono kuwi / kalo kebanyakan dosa ya seperti itu tuh”
Weittt, ciiaat....hak duk dak jesh tung prang pyar.... Kalau aku di sana tuh, secara kartun akan kutampar dan kutendang mereka berdua (lo kok anarkis? Ya biarin, kan secara kartun yeee). Maksudnya gini, aku protesssss bueraaaaaaatttttt, banget pula (sabar bu, sabar bu...wusshaaa, tarik napas, ya keluarin, yak ayo dorongg...push push push! Eit? Emang aku mau bayen?). Kok ya manusia tuh sukanya memberi label dan cap seenaknya sendiri ya? Ini nih yang paling sering terjadi di masyarakat, kadang ketika ada yang sakit, yang mengalami kesialan, kecelakaan, tidak sukses, gila atau apalah kemudian kejadian-kejadian sebelumnya dihubung-hubungkan. Apalagi yang berhubungan dengan kesalahan, dosa dlsb. Itu tidak benarrrrrrrr !! Apa orang yang dulunya berdosa lalu kemudian hidupnya jadi susah? Hmmm, menurutku tidak, hidup susah yang dia alami biasanya berhubungan dengan perbuatan terdahulunya, siapa menabur dia menuai. Ya kalo dia membunuh ya yang dia pasti dipenjara, itulah tuaiannya, hidup susah di penjara. Tapi hidup susah bukan berarti lalu Tuhan kasih kiriman alias bingkisan bertuliskan : HIDUPMU SUSAH. Bukan, bukan itu, kok Tuhan jahat sekali memberi bingkisan-bingkisan tidak mengenakkan. Contoh tadi di atas, ketika si Banu lahir dalam keadaan cacat, idiot, kemudian orang mulai membicarakan soal tulah, kutuk, dosa dlsb. Mereka menganggap itu kutukan Tuhan atas dosa orang tua. Woooo....salah besar, Tuhan sejahat itukah memberikan hukuman pada manusianya? Banu idiot karena proses genetik yang tidak sempurna, bukan karena dosa orang tuanya. Apa ya kalau orang tuanya tidak berdosa (dosa dalam artian ibu-ibu tadi), kalau dulu ibunya sekretaris dan ayahnya sopir lalu menjamin Banu jadi tidak idiot? Siapa bilang.... kejadian anak lahir idiot/cacat/syndrome down itu ada dalam sepersekian ratus ribu orang. Itu merupakan kesempatan (seperti kata Blaise Pascal). Lalu siapa yang membuat perubahan genetik itu? Ya itu memang kuasa Tuhan, tapi bukan berarti Tuhan memberi hukuman. Tuhan tahu bahwa ada hal yang harus terjadi, entah apa itu.....
So, ingat, aku PROTESSS, tidak setuju kalau kutukan, sakit, sial dan apalah yang jelek-jelek terjadi karena orang membawa dosa, aib, karena ga nurut orang tua, karena nikah tanggal ini, karena bikin rumah di tanah itu, karena apalah.... It’s just must be done to all humanity, as God wills.

Fiuh...banyak yah...padahal baru tiga hal yang aku protesin. Hem ehem... pasti pada udah mikir dan mulai pengen protes ya. Gak papa, wajar, itu semua hanyalah opini, so kalau tidak sesuai ya maklum. Nilai-nilai dan keyakinan yang dianut kan berbeda-beda. Aku hanya ingin membuka jendela otakku dan mengalirkan isinya ke sebuah tulisan sehingga. Ces’t la vie...PROTES

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
I'm happy, with new life, new city, new hope....